Pembudidayaan Lebah Madu di Afrika yang Memiliki Potensi Besar

Pembudidayaan Lebah Madu di Afrika yang Memiliki Potensi Besar – Dengan banyaknya budidaya lebah madu di kawasan Afrika tentunya memberikan keuntungan tersendiri untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Akan tetapi juga perlu dipahami bahwasanya budidaya lebah madu ini tidak dijadikan sebagai simbol konservasi karena diyakini memang kurang tepat meskipun memiliki potensi yang cukup memadai.

Sistem penyerbukan liar seperti halnya spesies lebah, kupu, lalat, dan ngengat tentunya akan bergantung terhadap pelestarian dari habitat yang cenderung lebih beragam daripada lebah madu yang dilakukan budidaya. Bahwasanya manfaat lingkungan dari lebah madu kemungkinan memiliki nilai guna untuk tahapan awal dalam menarik khalayak proses pelestarian lingkungan.

Akan tetapi tetap saja jika dilihat dari perspektif konservasi untuk jangka panjang tentunya akan membahayakan dan membuat keputusan sesuai keperluan satu spesies yang kemungkinan besar tidak memiliki makna untuk spesies lain yang lebih relevan. Terdapat peneliti dengan makalah yang mengusung judul melestarikan lebah madu tidak membantu alam liar telah menyampaikan kerisauannya bahwasanya melakukan budidaya lebah madu yang bersaing dengan beberapa hewan penyerbuk lain justru bisa menimbulkan risiko pada beberapa spesies yang liar.

Akan tetapi hal seperti ini kemungkinan juga banyak diterapkan di seluruh tempat kecuali di Afrika. Pasalnya dengan adanya beberapa lebah madu Afrika dan lebah madu di kawasan Afrika Selatan merupakan hewan asli dari benua tersebut dan bukanlah seperti beberapa lebah madu yang ada di benua Amerika ataupun Australia.

Dalam hal ini akan terdapat pertukaran antara populasi dari lebah liar dan lebah yang sudah dibudidaya oleh kalangan masyarakat. Sehingga dari pembudidayaan tidak akan mengenalkan adanya sebuah spesies yang nantinya ikut bersaing dengan beberapa hewan penyerbuk yang lain.

Mengingat terdapat kurangnya habitat secara alami merupakan masalah yang sangat besar terhadap keanekaragaman hayati yang berada di kawasan sub Sahara Afrika. Hal ini menunjukkan risiko pada penyerbukan liar bisa diminimalisir dengan memanfaatkan keuntungan terhadap ekosistem.

Di samping memang memberikan manfaat terhadap lingkungan tentunya industri madu kawasan sup Sahara Afrika memiliki potensi pada ekonomi masyarakat. Biasanya untuk konservasi dan bisnis tidaklah akan akur antara satu dengan yang lainnya.

Namun di dalam konferensi bisnis konservasi di Kigali Rwanda telah menyoroti akan pentingnya peranan konservasi yang beralih dari sebuah proyek filantropi menuju industri yang lebih kolaboratif, etis, dan sesuai dengan bisnis. Pembudidayaan lebah itulah yang dikenal sebagai contoh industri konservasi yang sangat menguntungkan.

Akan tetapi di dalam industri tersebut tentunya harus mencapai potensi ekonomi yang lebih penuh lagi dibandingkan dengan sebelumnya. Hal ini dikarenakan apabila tidak terpenuhi tentunya dorongan untuk khalayak dalam memberikan perlindungan pohon seperti halnya tidak akan cukup kuat sehingga mereka menjadi lebih suka melayani kepentingan industri batubara ataupun penebangan kayu.

Peluang menuju ke arah tersebut tentunya menjadi lebih besar terdapat kekurangan madu di dunia khususnya untuk jenis organik. Penawaran harga madu tinggi sesuai dengan permintaan khalayak dunia.

Masyarakat Eropa rata-rata telah mengkonsumsi 0,7 kg madu setiap tahunnya. Hal seperti ini tentunya sejalan dengan beberapa fakta bahwasanya Uni Eropa merupakan importir madu terbesar di dunia dengan transaksi pembelian kisaran 200.000 ton hingga menjadi produsen madu terbesar kedua sesudah negara Cina.

Selain itu juga telah memperkirakan adanya beberapa negara penghasil madu terbesar di kawasan Afrika dapat memperoleh kisaran US 100 juta dolar per tahun dengan adanya investasi dan inovasi terbaru yang dihasilkannya. Ethiopia sebagai produsen madu terbesar di kawasan Afrika dan sekarang ini mampu memproduksi 45.000 hingga 50.000 ton madu per tahun.

Akan tetapi dengan jumlah tersebut tentunya kurang dari 1000 ton yang dilakukan ekspor. Sebagian besar dari madu yang dihasilkan telah digunakan untuk mendukung pembuatan minuman anggur lokal.

Di negara Kenya, badan informasi pertanian nasional setelah mengklaim adanya kisaran 20% dari potensi produksi madu yang ada di negara tersebut dengan kisaran 100.000 ton yang sudah dimanfaatkan. Bagi perusahaan yang sudah mengambil keuntungan dari adanya permintaan madu dengan kualitas tinggi yaitu Hurters Honey.

Salah satu perusahaan keluarga yang sebenarnya menjadi salah satu produsen madu tersukses yang ada di kawasan Afrika Selatan. Lokasi untuk melakukan budidaya lebah madu milik dari perusahaan tersebut yang sudah berdiri sejak tahun 1978 berada di Langebaan, sebagai kawasan yang telah dikelilingi oleh tanaman fynbos yang berada di pesisir samudra Atlantik dengan jarak berkendara kisaran 90 menit dari Cape Town.

Dengan adanya laba-laba yang sudah dibudidaya tersebut mampu menghasilkan fynbos yang terkenal sangat harum dan memiliki cita rasa yang lezat. Produk unggulan inilah yang dijadikan sebagai andalan dari perusahaan selain dapat menghasilkan produksi madu eucalyptus serta orange blossom.

Kesuksesan yang telah dicapai oleh perusahaan terletak dalam penguasaan rantai pasokan hingga kerjasama yang sangat erat terhadap para pembudidaya lebah madu yang sudah terlatih. Perusahaan juga berbeda dengan adanya pembudidayaan lebah di Afrika yang sebagian besarnya dilakukan pengelolaan oleh lembaga swadaya masyarakat.

Dari adanya sejumlah LSM inilah yang membekali masyarakat pedesaan dengan penggunaan alat sederhana dan kemudian pergi. Diantara masyarakat setempat tentunya tidak memperoleh pelatihan yang cukup serta akses menuju ke pasar.

Hasilnya di dalam beberapa tahun melihat banyaknya alat pembudayaan yang dijual ataupun dijadikan sebagai kayu bakar. Para pembudidaya akan menghadapi dua kemungkinan tidak memiliki kemampuan dalam meningkatkan produksi ataupun tidak ingin karena biaya untuk membawa madu ke pasar sangatlah besar.